Jalan Nasional Di Tanami Pohon Pisang

GP News – Painan

Warga Koto Taratak Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) kesal pada proyek jalan nasional ruas Painan-Kambang yang tak kunjung tuntas.

Sebagian besar badan jalan dipenuhi lobang-lobang besar. Akibatnya, sebagai bentuk aksi protesnya, warga setempat menanam pohon pisang di setiap lobang jalan.

“Padahal jalan ini adalah poros utama jalur ekonomi lintas Barat, Sumbar-Bengkulu. Kondisi seperti ini sudah bertahun-tahun lamanya,” ungkap Buyung  (30 ), warga Taratak, Sabtu (14/7).

Proyek pembangunan jalan nasional lintas barat yang didanai utang Pemerintah Indonesia pada Winrip Australia melalui Bank Dunia itu dimulai sejak awal 2016.

Untuk Pesisir Selatan, terdapat tiga ruas antara lain Painan-Kambang, Kambang-Inderapura dan Inderapura-Tapan.

Sesuai kontrak awal, proyek pelebaran dan peningkatan badan jalan itu bakal siap pada akhir 2017. Namun hingga kini, lanjut Dodi, nyaris tidak ada progres pembangunan.

Yang terlihat dari pekerjaan itu hanya tumpukan material hasil dari galian yang teronggok di badan jalan. Sementara kegiatan pengaspalan tak kunjung dimulai.

“Jika memang pelebaran jalan nasional ini program pemerintah pusat, kenapa tidak segera dikerjakan,” sebutnya dengan nada sedikit kesal.

Jalan nasional Painan-Kambang yang melintasi Sutera terkesan lalai. Masyarakat sudah banyak yang rugi dengan kondisi jalan seperti itu.

Jika musim kemarau, jalan seprti berselimut debu. Banyak yang menderita batuk dan gangguang pernafasan.

Jika musim hujan, jalan dipenuhi genangan air. Parahnya lagi, sudah tak sedikit terjadi kecelakaan lalu lintas, baik kecelakaan tunggal, maupun tabrakan.

Ia berharap pada pemerintah daerah agar dapat mempertanyakan progres kegiatannya pada Balai Besar Jalan Nasional (BBJN) Wilayah II Sumbar.

“Kami berharap keresahan masyarakat ini ada solusinya . Jangan sampai pembangunan untuk rakyat justeru menyengsarakan rakyat,” pintanya.

Hal senada dikatakan Pili (48 tahun ) warga pungasan, pria yang sehari hari bolak balik dari Pungasan Painan ini, mengeluhkan kabut jalan yang sangat mengganggu mata. Tak hanya itu, bahkan motor yang dikendarainya sering mengalami bocor ban akibat kerikil tajam.

“Benar, kondisi ini membuat saya tidak nyaman. Saya sering telat berangkat kerja. Bahkan tumpukan material dan lobang jalan tersebut, pernah membuat saya hampir terjatuh,” ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Era Sukma Munaf menyampaikan, kontrak pekerjaan jalan bakal berakhir Juni 2018 ini.

Jika tidak selesai, maka akan ada sanksi dari pemerintah pusat. “Nanti itu kewenangan Kementerian PU. Karena dia jalan nasjonal,” kata dia beberapa waktu lalu di painan.

GP01